RA Terpadu Syaujan "Mendidik Sepenuh Hati dengan Syar'i" | Jika Anak Dibesarkan dengan pujian,ia belajar menghargai | jika anak di besarkan dengan dorongan,ia belajar percaya diri | jika anak di besarkan dengan rasa aman,ia belajar menaruh kepercayaan

VIDEO Kegiatan RA SYAUJAN

Rabu, 25 Juli 2012

8 tips mendidik Anak Berpuasa sejak dini
Berat memang mempraktekkan ini kepada anak kita. tapi, kita harus mencoba dan mencoba karena kalau tidak dari sekarang kapan lagi???
Baiklah, lebih jelasnya langsung saja ke 10 tips mendidik anak berpuasa:

1. Jelaskan Konsep Ramadhan
Hal pertama untuk mendidik anak berpuasa yang harus anda lakukkan adalah menjelaskan konsep ramadhan kepada anak anda. Tentang apa itu puasa di bulan ramadhan, dan awal mula diadakannya puasa ramadhan. Hal ini bertujuan agar anak mengetahui seluk beluk ramadhan dan juga untuk memupuk semangat ramadhan si anak.

2.Puasa Bertahap
Yang dimaksudkan puasa bertahap dalam mendidik anak berpuasa adalah jangan memaksa anak untuk bisa langsung puasa penuh dari waktu imsak sampai maghrib. Tapi lakukkan secara bertahap, puasa setengah hari misalnya. Lambat laun, anak akan bisa menjalani puasa sampai waktu penuh.
3. Berikan Contoh Yang Baik
Saat sedang berpuasa, baik anda maupun anggota kelaurga anda yang lain sebisa mungkin jangan mengeluhkan beratnya puasa pada saat beraktivitas. Berikan contoh yang baik pada anak untuk menjalani puasa dengan penuh kesabaran.

4. Berikan Semangat Untuk Anak
Memberikan semangat juga adalah tips mendidik anak berpuasa yang baik. Misalnya saja, ketika beberapa jam menjelang berbuka si anak sudah bilang tidak kuat. Langsung motivasi, “semangat, cuma tinggal 2 jam saja kok”. Itulah contohnya.

5. Berikan Menu Favorit dan Bergizi
Tips mendidik anak berpuasa berikutnya adalah memberikan makanan favorit si anak sebagai menu sahur. Dengan begitu si aak akan bersemangat untuk bangun sahur. Tapi, jangan lupakan juga kandungan gizi yang cukup agar si anak kuat dalam menjalani puasa.

6.Jauhkan Godaan Dari Anak
Cara mendidik anak berpuasa yang ini, anda diharuskan untuk menjauhkan atau menyembunyikan sementara hal-hal yang sekiranya bisa menggoda anak untuk membatalkan puasanya. Misalnya saja es krim atau makanan enak yang sering terpampang di lemari es.

7. Jangan Memarahi Anak
Jika anak tidak bisa berpuasa sesusi dnegan terget yang sudah direncanakn sebelumnya, jangan memarahinya karena hal itu akan membuat anak anda berani berbohong demi tidak mendapat marah dari anda.

8. Berikan Hadiah
Jika si anak berhasil menyelesaikan puasanya, tidak ada salahnya anda memberikan hadiah kepada anak. Hal itu akan memotivasinya untuk tetap berpuasa di hari-hari berikutnya.
Demikian artikel mengenai 10 Tips Mendidik Anak Berpuasa Sejak Dini dari Jurnal dan Informasi Online.

Kamis, 19 April 2012

ANAK MASUK TK....


Perlukah Anak Masuk TK
 Layaknya tipikal perempuan berkeluarga yang tinggal di kota besar, Laura, 28 tahun, harus berjibaku demi memadukan perannya sebagai perempuan bekerja sekaligus istri dan ibu di rumah. Kurangnya waktu untuk menstimulasi perkembangan anaknya membuat perempuan yang bekerja di bidang riset pemasaran ini memutuskan untuk memasukkan Kiki, putranya yang baru berusia 2 tahun, ke TK. “Saya tidak punya cukup waktu untuk mendidik anak saya sendirian. Lagipula, saya pikir tidak ada salahnya. Kan lebih baik dia belajar daripada hanya bergaul dengan babysitter,” katanya.
Tentunya tidak sedikit ibu seperti Laura yang menyerahkan pendidikan usia dini sang anak kepada institusi yang dikenal sebagai Taman Kanak-Kanak (TK). Memasukkan anak ke TK mungkin bisa dilihat sebagai salah satu pilihan yang mudah. Di TK, anak sudah mendapatkan paket pembelajaran yang lengkap untuk membangun kecakapan sosial serta perkembangan kognitif. Apalagi banyak SD sekarang yang mengharapkan agar calon anak didiknya sudah punya kemampuan membaca dan menulis.
Tetapi, benarkah anak-anak di TK memerlukan pelajaran yang bersifat akademis?    
Menurut Dr. Reni-Akbar Hawadi, M.Psi, TK seharusnya lebih menekankan aspek bermain, bukan pada pelajaran yang bersifat skolastik seperti membaca, menulis dan berhitung. “Anak batita dan balita belum siap untuk menerima pelajaran-pelajaran seperti itu. Justru di usia ini kemampuan motorik yang harus dikembangkan, baik kasar maupun halus. Selain itu, perkembangan emosi dan sosialnya juga harus dibangun. Ini semua bisa diperoleh dengan cara bermain. Kalau mengajarkan cara membaca, menulis, atau berhitung, itu justru tugas guru kelas 1 SD, bukan guru TK,” begitu penjelasan Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi UI ini..
Pada dasarnya, kunci dari TK adalah untuk menyiapkan keseimbangan yang sehat antara memberikan ruang dan kesempatan yang cukup bagi anak untuk beraktivitas, termasuk membangun inisiatif dalam melakukan suatu kegiatan, serta belajar kecakapan sosial dan mematangkan emosi melalui permainan-permainan dalam kelompok.
Hanya, tak jarang TK salah kaprah dalam menerjemahkan kebutuhan SD terhadap calon murid. Sehingga, putra-putri kecil kita pun dijejali dengan pelajaran-pelajaran yang sifatnya akademis. Padahal kemampuan tiap-tiap anak berbeda. Anak yang memang tergolong cerdas dan cepat menyerap pelajaran mungkin tidak mengalami kesulitan, tapi pada kenyataannya, tidak sedikit pula balita yang belum benar-benar siap untuk sekedar pegang pensil dan mengukirkan huruf-huruf di atas kertas.
“Hendaknya, TK tidak memukul rata semua kemampuan murid. Karena pendidikan seharusnya disesuaikan dengan kapasitas masing-masing anak, bukan menyeragamkan pola pikir,” tutur Reni.
Lebih lanjut Reni menjelaskan bahwa TK adalah fondasi untuk menyiapkan anak agar siap belajar secara formal di tingkat SD. Persiapan ini tentunya tidak hanya melibatkan kecerdasan, tapi juga kematangan emosi serta kemampuan sosial. “Di TK, anak diharapkan sudah bisa mandiri dan bersedia menerima otoritas orang lain. Dengan kata lain, dia sudah tidak perlu lagi didampingi orang tua. Contoh, jika seorang balita sudah mampu menulis abjad dengan sempurna, tapi saat diantarkan masuk SD masih harus selalu ditemani ibunya, itu berarti dia belum matang secara emosional.”
Sesuaikan dengan Kebutuhan Anak
Kerap sebagai orang tua kita menasihati anak dengan berkata, “Kamu tidak perlu melakukan sesuatu hanya karena temanmu juga melakukannya.” Namun, saat dihadapkan pada pilihan untuk memasukkan anak ke TK, tampaknya hanya sedikit orang tua yang sungguh-sungguh mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan.
Orang tua masa kini sangat takut apabila anaknya akan tertinggal. Hal ini sebenarnya bisa dipahami, apalagi tantangan globalisasi sudah ada di pelupuk mata. Bagaimanapun, orang tua yang berusaha sedini mungkin memasukkan anaknya ke program pembelajaran formal sebenarnya punya itikad baik. Para ahli pun setuju bahwa TK adalah tempat yang baik bagi anak untuk mengembangkan kecakapan sosial, serta sebagai fondasi untuk memasuki tahap pembelajaran berikutnya. Tetapi yang perlu diingat adalah reaksi anak ketika dihadapkan pada institusi ini.
“Saya adalah orang yang pro-TK. Sebaiknya anak diikutsertakan di TK agar dia bisa belajar berinteraksi. Tapi tetap saja TK bukan pilihan mutlak,” begitu kata Reni. TK memang cocok bagi orang tua bekerja yang tak sempat mengajar anaknya sendiri. Tetapi jika orang tuanya punya cukup waktu, sistem home schooling juga bisa dijadikan pilihan. Selain itu, orang tua bekerja juga masih punya altenatif lain, yakni menitipkan anak di daycare. “Karena yang terpenting adalah, apakah anak menikmati semua kegiatan itu,” Reni menambahkan.
Pengamatan Kecil
Apakah di TK anak Anda mendapatkan kesempatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya? Untuk mengetahui itu, lakukan sejumlah pengamatan kecil sebagai berikut:
1. Ketahui apa yang mereka pelajari. Bicaralah dengan kepala sekolah atau pihak yang berwenang mengenai hal ini. Bila memungkinkan, mintalah izin agar Anda diperbolehkan duduk di dalam kelas untuk mengamati kegiatan di sana. Misalnya, apa saja yang terjadi di dalam kelas? Berapa waktu yang diberikan kepada anak untuk menyelesaikan tugas di dalam kelas? Berapa banyak waktu bermain di luar ruangan? Apakah program pelajaran memberi kesempatan yang cukup bagi anak untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dirinya? Selain itu, amati pula cara guru menyampaikan pelajaran. Sebagai contoh, Apakah para guru melibatkan anak-anak dalam percakapan? Apakah mereka mengizinkan anak untuk menciptakan permainan sendiri dengan mainan yang sederhana, seperi balok, serta inisiatif untuk bermain bersama teman? Ketiga hal tersebut sebenarnya penting untuk perkembangan kognitif dasar. Mendorong anak mengeluarkan pendapat akan membangun kosa kata serta kemampuan berpikir. Bermain dengan balok berarti mengenalkan anak terhadap konsep angka dan isi. Sementara bermain dengan kawan berarti membangun kecakapan sosial.
2. Waspadai bila pelajaran yang diberikan terstruktur secara berlebihan. TK yang baik akan menawarkan perpaduan antara aktivitas individual dengan kelompok. Tapi, setiap TK hendaknya fleksibel menyesuaikan kurikulum dengan situasi yang ada. Struktur pada dasarnya adalah baik. Namun anak tetap harus diberi kesempatan yang cukup luas untuk berpartisipasi sehingga pelajaran tidak berlangsung layaknya monolog semata. Misalnya, mungkin anak belum bisa menentukan buku apa yang harus dibaca, tapi saat pelajaran mendongeng, mereka harus diberi kesempatan untuk bertanya mengenai buku tersebut.
3. Amati bentuk pelajaran di dalam kelas. Perhatikan baik-baik. Apakah semua anak dipaksa untuk membubuhkan warna yang sama pada gambar gunung atau langit? Apakah semua anak harus menulis abjad yang sama setiap minggu? Termasuk anak-anak yang masih terengah-engah mengejar pelajaran maupun mereka yang sudah menguasai di luar kepala? Perlu diketahui. TK yang baik akan memberi ruang yang cukup bagi masing-masing anak untuk berkreasi. Tentunya anak-anak akan lebih termotivasi bila pelajaran yang diberikan merefleksikan minat dan kemampuan mereka sendiri. Apabila TK tempat anak Anda belajar tampak terlalu fokus pada keseragaman cara belajar, bicaralah dengan pihak kepala sekolah. Atau, Anda bisa memindahkan anak ke TK yang lebih memberi kebebasan pada murid untuk bersikap kreatif.
4. Cari tahu latar belakang para guru. Tanyakan dengan sopan mengenai latar belakang pendidikan serta pelatihan apa saja yang pernah diikuti para guru. Karena guru-guru yang diberi pelatihan mengenai pendidikan anak usia dini lebih tahu aktivitas apa saja yang cocok untuk anak

ANAK TK MASUK BIMBEL CALISTUNG



 
KBR68H - Para orangtua murid diminta untuk melapor ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan apabila ada Sekolah Dasar yang masih menerapkan tes baca, menulis dan berhitung dalam penerimaan siswa kelas 1. Tidak ada kewajiban bagi calon siswa untuk bisa membaca, menulis dan berhitung agar bisa diterima di sekolah dasar. Apa dampaknya jika tes calistung dipaksakan sejak dini? Simak perbincangan bersama Pemerhati Masalah Anak, Seto Mulyadi

Masih ada sekolah yang menerapkan ujian Calistung untuk anak-anak yang mau masuk SD?
Iya memang itu sangat memprihatinkan karena standar kompetensi pada anak-anak untuk membaca, menulis, dan menghitung itu sebetulnya diajarkan pada SD. Misalnya Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk matematika itu kelas 1 SD akhir semester 1, akhir semester 1 itu anak cukup bisa menghitung 1-20. Jadi berarti semua memang baru dimulai pada waktu SD itupun dalam suasana gembira, memang sayang sekali kalau anak-anak harus dipaksa untuk menguasai kemampuan membaca, menulis, dan menghitung sebagai persyaratan untuk masuk ke sekolah dasar itu akan membuat anak-anak menjadi stres, tertekan, dan semacam bentuk pelanggaran pada hak anak kita.
Apa hubungannya nanti dengan mengurangi masa bermain anak ataukah nanti pada pertumbuhan psikologi?
Iya itu memang mengurangi masa bermain pada anak, karena dunia anak adalah dunia bermain. Jadi betapa TK itu adalah memang taman bermain, bukan sekolah taman kanak-kanak tapi namanya taman kanak-kanak dan kalau memang itu dipaksakan apalagi dengan cara yang keliru. Beberapa metode memang bisa membuktikan tetapi dengan pendekatan individual, tapi tidak dengan cara klasikal sebagaimana banyak terjadi pada TK kita. Akibatnya bukan hanya kehilangan waktu bermain tapi anak stres, bisa phobia terhadap sekolah ini tentu akan membuat permasalahan-permasalahan psikologis yang lebih mendalam lagi.
SD terutama yang berstandar internasional itu menerapkan tes Calistung, apakah mencari gampang atau mudahnya saja saat mengajarkan anak-anak saat masuk?
Masalahnya ada pada jumlah pendaftar yang melebihi kapasitas, sehingga seolah tidak diperlukan cara terbaik untuk menyeleksi. Bagaimana caranya, Kementerian Pendidikan Nasional sudah mempersyaratkan yang paling utama adalah usianya yag sudah lebih lanjut, katakanlah kebanyakan umur 6 tahun, ada yang 7 tahun itu yang diutamakan dulu, mereka harus secepatnya ditampung dalam SD. Bahwa nanti membaca, menulis dimulai waktu SD itupun caranya berdasarkan tema-tema itu sampai kelas 3 SD.
Ini zaman modern, jadi orang tua banyak yang bangga kalau anaknya yang TK sudah bisa membaca, bahasa Inggris. ini apa yang negatif bagi anak kalau dengan kondisi seperti ini?
Memang kalau bisa anak-anak diperkenalkan dulu pada bahasa ibunya, sehingga anak tahu konsep bahasa itu untuk komunikasi dan lancar. Tetapi kalau dari awal sudah diberikan, itupun kadang-kadang dengan cara yang keliru atau mungkin diajarkan oleh gurunya.
Menurut anda perlu tidak sanksi diberikan oleh Kemendiknas pada sekolah-sekolah yang melanggar aturan?
Iya sebetulnya kalau anak-anak dipaksakan itu menjawab tuntutan ataupun desakan orang tua. Kalau misalkan ada TK yang main semua lalu dibilang ah TK apa ini, kenapa tidak ada matematika, kenapa tidak ada bahasa Inggris.Seolah-olah orang tua banyak yang tanpa sadar melakukan tekanan kepada putra-putrinya, wah baru TK sudah bisa penjumlahan atau bahasa Inggris rasanya bangga sekali atau untuk supaya bisa masuk ke SD unggulan. Sebetulnya peraturannya, lebih ditujukan pada SD-nya jadi ada semacam pengawasan atau pelarangan, SD dilarang tes Calistung pada siswa yang akan masuk.
Kalau ada yang melakukan Calistung bisa melapor?
Iya betul. Jadi Dinas Pendidikan bisa mengambil tindakan yang tegas, dengan demikian para guru juga berusaha gembira karena bisa memberikan nuansa bermain lebih menyenangkan pada putra-putri didiknya.
Bagi sekolah tentu mereka memenuhi kebutuhan pasar juga ya karena ada tuntutan, banyak keluarga yang meminta agar diberikan pendidikan-pendidikan kelas tinggi akhirnya mereka mau tidak mau menerima juga begitu?
Iya betul. Jadi marilah kita kembalikan sekolah untuk anak bukan anak untuk sekolah, Kurikulum untuk anak bukan anak untuk kurikulum. Semua dilakukan demi kepentingan terbaik bagi anak-anak.
Tentang usia anak TK menjelang SD, pendidikan apa yang paling tepat bagi mereka?
Bermain. Pertama adalah gerakan motorik kasar dia bisa berlari, melompat, melempar bola, menendang, dan sebagainya. Jadi mohon sebetulnya taman kanak-kanak itu ada suatu areal yang cukup memadai, ada rumput hijau, ayunan, dan sebagainya. Karena pada dasarnya pada usia tersebut anak berpikir dengan gerakan-gerakannya, bukan disuruh duduk berjam-jam seperti penulis.

Sabtu, 03 Maret 2012

Daftar Donatur

1. Ibu Aini Bekasi (Rp. 3.000.000)
2. Ibu Meita Jatiwaringin (Rp. 500.000)
3. Ibu Kastin (1 toa dan kanopi)
4. Bapak Untung (2 sak semen)
5. Ibu Warisem ( 3set handle pintu, 3 set kran, terpal besar)
6. Ibu-ibu MT Syauqul jannah (Rp. 800.000)
7. Anis Nurul laili Mojokerto (Rp. 1.000.000)
8. Edwin Mara Jakarta ( Rp. 3.500.000)
9. Ibu Karniati (Rp.200.000)

Jumat, 02 Maret 2012

PROPOSAL

Ayo Membangun Rumah di Surga dengan INVESTASI PEDULI PENDIDIKAN di RASYAUJAN


  • Kantor : Jl.Belly RT.008/06 No.55 Pekayon Pasar Rebo Jakarta Timur 13710
  • Telp.021-87716558,Hp.08567632026, 082112728275
  • E-mail : syauquljannah@ymail.com | http://syaujan.blogspot.com/    

================================


Proposal

Nomor        : 007/PAN-RAT “SYAUJAN”/II/2012
Lampiran    : Satu bendel
Hal        : Permohonan Sumbangan

Yang Terhormat
Bapak/Ibu/Sdr/i
Dermawan
Di
Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga pada saat ini kita masih dapat melaksanakan kegiatan dan aktifitas yang mudah-mudahan diridhoi oleh-Nya, Amin.
Para dermawan yang bahagia, kami Panitia pembangunan gedung Raudhotul ‘Athfal Terpadu SYAUJAN (RA TERPADU SYAUJAN) Pekayon – Jakarta Timur, dengan rasa rendah hati dan penuh rasa hormat mengharap keikhlasan para dermawan untuk menyisikan sebagaian rizki demi terwujudnya pembangunan gedung Raudhotul ‘Athfal Terpadu SYAUJAN (RA TERPADU SYAUJAN) Pekayon – Jakarta Timur. Bantuan berupa dana bisa ditransfer ke rek. BCA 1662600851 a.n eko zamroni. atau ke rek bank sesuai permintaan Bapak/Ibu /Saudara/i. insya Allah kami akan memenuihinya.
Demikian proposal ini kami buat, atas bantuan serta partisipasi para dermawan kami ucapkan terima kasih.
Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairat
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
                            Jakarta, 07 Februari 2010 M
                                     14 Rabiul awal 1433 H
PANITIA PEMBANGUNAN
RAUDHOTUL ‘ATHFAL SYAUJAN

Ketua                            Sekretaris


Eko Zamroni,S.pdI                         Lenda Lestari, S.pd
PROPOSAL PEMBANGUNAN
RA TERPADU SYAUJAN

Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan dan ampunanNya. Kita berlindung kepada Allah dari seluruh kejelekan dan keburukan amal-amal kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang sanggup menyesatkannya dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang sanggup menyelamatkannya. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Amma ba’du:
   
A.    LANDASAN
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
  وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Dan orang-orang yang beriman berkata : “ Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” QS. Al-Furqon [25]: 74.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” QS. An-Nisaa’ [4]: 9.

B.    LATAR BELAKANG
Anak yang berbakti kepada orang tua dan memiliki kemampuan baik diniyah (agama) maupun duniawi adalah harapan setiap orang tua kaum muslimin. Tentu untuk mendapatkan yang demikian tidaklah mudah, akan tetapi harus diusahakan dengan sungguh-sungguh disertai dengan permohonan kepada Allah SWT.
Harapan untuk mendapatkan anak yang memiliki sifat ideal ini hampir-hampir sulit diraih oleh kaum muslimin. Hal ini dikarenakan terdapat banyak hambatan, baik dari dalam maupun dari luar.
Hambatan yang berasal dari luar di antaranya adalah lingkungan yang tidak kondusif. Sebegitu ketatnya orang tua mengontrol anak apabila dia tidak memperhatikan lingkungannya maka tidak akan berarti apa-apa. Begitu banyak hal yang merusak kepribadian anak seperti tayangan TV, media elektronik dan cetak secara umum adalah di antara contohnya. Seorang anak yang selamat dari TV ketika dia membuka internet misalnya dia dapatkan hal yang buruk demikian pula ketika dia membuka majalah. Nas alullaha As-Salamah (kita memohon keselamatan kepada Allah).
Hambatan lain adalah biaya pendidikan secara umum yang kurang terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Tidak dipungkiri bahwa untuk mendapatkan kualitas yang baik tentu memerlukan biaya yang besar. Hanya saja kalau semakin lama biaya pendidikan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat tentu akan menimbulkan hal yang tidak baik dan akan terbukti kebenaran perkataan orang “Orang miskin dilarang sekolah”.
Oleh sebab itu perlu adanya pemikiran dan niat yang lurus untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk masalah yang pertama yaitu situasi lingkungan yang banyak merusak maka di antara yang patut diperhatikan adalah membekali anak dengan tameng yang kuat. Yang dimaksud adalah aqidah Islam yang kuat dan akhlaq karimah / mulia. Harapannya adalah dengan sedini mungkin anak dibekali dengan hal ini maka mereka insya Allah masih dalam kondisi fitrah yang murni sehingga dalam menghadapi kerusakan-kerusakan lingkungan mereka sudah memiliki filter yang bisa melindunginya. inilah yang disebut kepribadian Islam.
Usia dini ( 4 sd. 6 tahun) merupakan usia yang oleh sebagian kalangan merupakan usia yang tidak boleh untuk diajari membaca dan menulis. Karena mereka berpendapat bahwa hal ini akan menyebabkan efek negatif bagi anak. Teori inilah yang masih banyak berkembang di kalangan masyarakat.
Sebagian kalangan pendidik justru mengatakan yang sebaliknya, bahkan mereka menguatkannya dengan berbagai penelitian ilmiah yang telah dilakukan. Karena menurut mereka, pada usia 2 hingga 3 tahun anak-anak telah memiliki kemampuan untuk mengenal dan membedakan nama-nama benda. Sehingga menurut mereka tidak ada salahnya untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat pada anak didik pada usia dini seperti pelajaran membaca dan menulis misalnya.
 Hal yang jelas dan gamblang adalah melalui proses pembelajaran yang kontinue dan didukung dengan sistem kurikulum serta pengajar yang tangguh, insya Allah anak-anak pada usia pra sekolah akan mampu membaca, menulis dan menghafal dengan baik dan hal ini telah banyak dibuktikan oleh lembaga-lembaga pendidikan pra sekolah. Akan tetapi, hal ini tetap harus mempertimbangkan masa bermain yang masih melekat pada diri anak-anak usia pra sekolah.
Hal yang tidak boleh diabaikan dalam pendidikan usia pra sekolah adalah sistem pendidikan yang dipakai. Sistem pendidikan yang selama ini dipakai - kalau tidak boleh dikatakan semuanya – sebagian besar hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan intelegensinya. Hal inilah yang patut untuk disadari, bahwa semata kecerdasan dan kemampuan intelegensia tidak akan membawa kemaslahatan yang besar.
Maka sistem pendidikan yang benar adalah penggabungan antara kemampuan intelegensia dan kekuatan keyakinan yang tertanam di dada mereka serta diaplikasikan dalam keseharian mereka. Inilah yang kami sebut sebagai orientasi mendidik sepenuh hati dengan syar’i. melahirkan generasi islam yang mandiri cerdas kreatif dan bertaqwa. Yang dimaksud sepenuh hati adalah mendidik kesabaran, keuletan serta kasih saying, syar’i adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar selalu mengacu pada tata cara pendidikan dalam islam atau yang kami kenal dengan istilah mentauladani Rasulullah SAW. generasi islam adalah mereka dipersiapkan sebagai penerus perjuangan Rasulullah SAW. dan para shahabat. oleh karena itu, RA syaujan berupaya dengan maksimal untuk mendekatkan mereka dan membiasakan mereka berinteraksi sesama teman dalam suasana kehidupan islam. misalnya anak dibiasakan bertuturkata dengan kalimat toyyibah, saling mengingatkan diantara mereka ketika ada yang berbuat dan berkata yang tidak sopan. (kalimat istighfar sering kita dengarkan dari mulut mereka). Mandiri adalah anak memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.. cerdas adalah anak yang mamapu memaksimalkan potensi kecerdasan yang terdapat pada dirinya. kreatif adalah anak dengan mudah menuangkan dan menemukan ide-ide nya. bertaqwa adalah selalu mengingat dan sadar bahwa setiap berbuatan kita dilihat oleh Allah SWT. dengan demikian anak tidak akan berani untuk berbuat yang tidak baik. motivasi anak adalah ingin menjadi anak yang dficintai Allah SWT. Rasul-Nya serta orang tuanya.
 Karena beberapa alasan di atas itulah RA Terpadu Syaujan didirikan, dan perlu disadari bahwa pendirian RA Terpadu Syaujan ini tidak bisa tidak harus didukung oleh segenap lapisan masyarakat yang peduli dengan pendidikan putra-putri kaum muslimin dan demi masa depan Islam dan kaum muslimin yang lebih cemerlang. Oleh sebab itu kami mengundang dan mengajak kaum muslimin dan muhsinin untuk ikut memberikan sumbangsihnya untuk kelancaran pendirian dan pengelolaan ke depan RA Terpadu Syaujan ini.
Di antara yang patut untuk diperhatikan adalah bahwasanya motif dari pendirian RA Terpadu Syaujan ini adalah menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas untuk putra-putri kaum muslimin dengan biaya yang terjangkau kalangan menengah ke atas dan menengah ke bawah (semua kalangan). Oleh karena itu dalam anggaran biaya yang insya Allah kami sertakan terdapat BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) yang akan dialokasikan untuk mensubsidi biaya pendaftaran dan juga biaya pendidikan bulanan.

C.    MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud disusunnya proposal ini adalah untuk memberikan gambaran dan informasi kepada kaum muslimin dan para donatur tentang RA Terpadu Syaujan ini.
Adapun tujuan dari pembuatan dan penyebaran proposal ini adalah :
1.    agar kaum muslimin mengetahui besarnya kebutuhan dana yang diperlukan RA Terpadu Syaujan
2.    memohon bantuan dana kepada para muhsinin /donatur yang secara ikhlas menafkahkan hartanya di jalan Allah.

D.    BENTUK BANTUAN YANG DIHARAPKAN
Sebagai sebuah lembaga yang baru maka tentu saja diperlukan banyak sekali sokongan dari kaum muslimin, baik moril maupun material. Demikian pula RA Terpadu Syaujan tentu mengharapkan bantuan dari kaum muslimin semuanya. Di antara bentuk bantuan yang dapat diberikan adalah :
1.    waqaf tanah / bangunan, karena RA Terpadu Syaujan ini masih membutuhkan gedung untuk sarana kegiatan belajar mengajar.
2.    waqaf sarana / prasarana RA Terpadu Syaujan seperti meja, rak dan lain-lain sehingga nantinya bisa menghemat biaya operasional
3.    bantuan berupa dana segar yang besarnya sebagaimana yang kami sertakan dalam anggaran biaya baik sebagian maupun keseluruhan
4.    pemberian bantuan dana untuk BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) baik insidental maupun rutin, yang nantinya oleh pihak RA Terpadu Syaujan akan dialokasikan kepada anak-anak  yang kurang mampu

E.    TUJUAN RA TERPADU SYAUJAN
1.    Memberikan dasar-dasar kemampuan baca dan tulis.
2.    Memberikan dasar-dasar kemampuan baca tulis serta hafalan Al-Qur’an (khususnya Juz ‘Amma)
3.    Mendidik anak muslim sehingga memiliki dasar-dasar kepribadian Islam, penguasaan tsaqafah Islam dan siap melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
4.    meningkatkan kreativitas anak dengan memberikan ketrampilan-ketrampilan dasar yang perlu dimiliki anak-anak.
5.    Menggalang peran serta masyarakat dalam membina anak-anak.

F.    MOTTO
Mendidik sepenuh hati dengan syar’i. melahirkan generasi islam yang mandiri cerdas kreatif dan bertaqwa.

G.    SISTEM PENDIDIKAN
Sebagai lembaga pendidikan sebelum anak menginjak sekolah dasar, RA Terpadu Syaujan tidak hanya mempersiapkan kognitif  (pengetahuan) anak, namun juga moral Islami, koordinasi fisik, kepekaan panca indera serta keterampilan sosial dan komunikasi.
Dengan kondisi belajar melalui bermain yang berorientasi pada kebutuhan anak, diharapkan tuntas perkembangannya sehingga anak siap dan percaya diri melangkah di sekolah dasar.Sebagai RA Terpadu, anak-anak RA Syaujan  juga terbiasa berdoa, belajar membaca Al-Qur’an, menghafal surat pendek dan hadits, shalat jamaah, dan berahlak Islami.
untuk mencapai target dalam kegiatan belajar di RA TERPADU SYAUJAN, kami menggunakan metode belajar dengan sistem sentra. adapun sentra yang sudah kami buka adalah:
a.    Sentra Agama
b.    Sentra Persiapan
c.    Sentra Bahan Alam
d.    Sentra Seni Kreasi

H.    JENJANG PENDIDIKAN
Jenjang pendidikan yang dilaksanakan selama dua tahun dan diperuntukan bagi anak-anak usia pra-sekolah (3 s.d 6 tahun) dan dilaksanakan secara full day (mulai pukul 08.00 – 13.00).


I.    SUMBER DANA
Sumber dana untuk membiayai kegiatan ini diperoleh dari :
1.    Infaq panitia pendirian RA TERPADU SYAUJAN
2.    Infaq para aktivis dakwah
3.    Sumbangan para donatur yang tidak mengikat
4.    Sumber-sumber lain yang halal.

J.    PENUTUP
Demikian proposal pembangunan RA TERPADU SYAUJAN ini kami sampaikan. Besar harapan kami agar program dan kegiatan yang kami rencanakan dapat terwujud dan dapat memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan kaum muslimin. Atas segala bantuan dan kerja samanya kami mengucapkan Jazakumullahu khairan katsiran, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang lebih baik dan menjadikan pemberat bagi timbangan amal kebaikan pada hari Kiamat.
Mudah-mudahan segala amal usaha yang kita lakukan mendapat ridha dari Allah dan petunjukNya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari Kiamat.
           
                            Jakarta, 07 Februari 2010 M
                                     14 Rabiul awal 1433 H
PANITIA PEMBANGUNAN
RAUDHOTUL ‘ATHFAL SYAUJAN

Ketua                            Sekretaris


Eko Zamroni,S.pdI                         Lenda Lestari, S.pd

   
SUSUNAN PANITIA
PEMBANGUNAN  GEDUNG
RA SYAUJAN

1.    KETUA            : EKO ZAMRONI
2.    SEKRETARIS        : LENDA LESTARI
3.    BENDAHARA        : WARISEM            (ketua komite)
4.    SEKSI DANA:
a.    H. Sukarjono
b.    Suyati
c.    kastin
d.    eko zamroni
e.    lenda lestari
f.    ibu Zahra
g.    zahwa
h.    ibu Rani
i.    ibu rifqi

Minggu, 26 Februari 2012

ANAK KURANG KONSENTRASI

Jika Anak Susah Konsentrasi

N amanya anak, memang mudah beralih perhatiannya. Tapi tak berarti orang tua tak bisa meningkatkan konsentrasinya agar lebih baik.
"Aduh, anakku, kok, enggak bisa diam, sih! Baru duduk sebentar, sudah mau menonton Teletubbies . Teve baru dipasang, malah jalan-jalan. Jangan-jangan anak saya sulit berkonsentrasi," keluh seorang ibu.
Sulit konsentrasi, kata psikolog Dra. Rosemini A. Prianto, MPsi atau biasa dipanggil Romi, adalah bila tidak fokus dalam memperhatikan suatu hal atau perhatiannya terpecah dan mudah beralih. Jadi, untuk suatu pekerjaan, dia tidak bisa menuntaskannya. "Sedikit-sedikit, perhatiannya sudah berubah, tak memberi perhatian. Dan itu terjadi pada semua hal." Tapi kesimpulan bahwa seorang anak sulit konsentrasi, baru bisa didapat setelah dibandingkan dengan anak normal umumnya.
Hal senada dijelaskan dr. H. Irawan Mangunatmadja, SpA , dari Bagian Saraf Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. "Anak yang susah konsentrasi, biasanya memiliki gangguan atau kelainan. Misalnya saja, hiperaktif."

Masih Wajar
Kendati demikian, orang tua tetap tak bisa langsung menyimpulkan anaknya mengalami gangguan konsentrasi. Irawan mengingatkan, jika anak usia batita tampak tak bisa diam, seolah hiperaktif, mungkin sebenarnya normal. "Anak usia batita biasanya memang tak bisa diam. Masalahnya, ia memang sedang berada dalam fase eksplorasi. Maunya ke sana kemari, menjelajah. Itu masih wajar, kok." Kalau memang si anak tak mengalami kelainan semisal hiperaktif, lanjutnya, "Kalau disuruh diam, ya, dia akan diam."
Beda dengan anak berkelainan. Cirinya, kelewat aktif. "Anak yang hiperaktif malah sama sekali tak bisa konsentrasi pada semua hal. Beda dengan anak normal yang mungkin hanya pada hal-hal tertentu saja," papar Irawan lebih lanjut.
Baru di usia sekitar 4-5 tahun, jelas Romi dalam kesempatan terpisah, anak mampu berkonsentrasi. Sementara anak balita, "Kalau bisa konsentrasi 5 menit saja, secara umum dapat dikatakan konsentrasinya cukup baik." Bila lebih dari 5 menit, berarti si anak memang lebih dibanding rata-rata anak umumnya. Nah, jika si kecil berumur 5 tahun memegang sesuatu lalu sesaat kemudian sudah dilempar (benda apa saja), berarti ada sesuatu dengan diri si anak.

Faktor Penyebab
Menurut Romi, penyebab sulit konsentrasi pada anak bisa karena faktor lingkungan, tapi bisa juga karena ada masalah dalam dirinya. Dengan kata lain, ada faktor eksternal dan internal. Untuk faktor lingkungan, misalnya, anak diberi tugas menggambar. Pada saat yang bersamaan, ia mendengar suara ramai dan itu lebih menarik perhatiannya sehingga tugasnya pun diabaikan. "Lingkungan mempengaruhi konsentrasinya," jelas Romi. Sedangkan faktor internal antara lain adanya gangguan perkembangan otak, sehingga anak cenderung jadi hiperaktif. "Ada kaitannya dengan hormon.
Kalau hiperaktif, maka hormon yang dihasilkan lebih banyak. Kalau anaknya lamban, maka neurotransmitter-nya kurang." Konsentrasi atau perhatian, papar Irawan, biasanya berada di otak daerah frontal (depan) dan parientalis (samping).Nah, gangguan di daerah ini bisa menyebabkan kurang atensi atau perhatian. "Jadi, karena sistem di otak dalam memformulasikan fungsi-fungsi aktivitas, seperti penglihatan, pendengaran, motorik, dan lainnya, di seluruh jaringan otak itu terganggu, maka anak tidak dapat berkonsentrasi karena input yang masuk ke otak terganggu. Akibatnya, stimulasinya pun tak bagus," jelas Irawan. Gangguan ini bukan merupakan bawaan melainkan didapat, semisal karena terkena infeksi otak.

Pengobatan dan Terapi
Selain faktor eksternal dan internal, papar Romi, faktor psikologis pun turut berperan. Umpamanya, anak mendapatkan suasana di "sekolah" yang berbeda dengan suasana di rumah. Anak kaget, misalnya karena punya teman yang lebih berani. Ketakutan dan kekhawatiran si anak membuatnya sulit untuk konsentrasi. Akibatnya, konsentrasi di kelas untuk menerima pelajaran jadi berkurang. "Jadi, ini karena pengaruh masalah kepribadian atau sosialisasi."
Karena itulah, lanjut Romi, penyebab sulit berkonsentrasi harus dicari lebih dulu. "Selanjutnya, orang tua dapat membantu misalnya dengan mengeliminir lingkungan sedemikian rupa agar anak bisa fokus atau memusatkan perhatiannya." Di usia sekolah, di mana rentang konsentrasi-nya sudah lebih panjang, anak tidak terlalu bermasalah. "Kecuali jika ia memang punya kelainan."
Untuk anak hiperaktif, bisa diberi terapi obat, terapi perilaku, dan lainnya. "Biasanya pengobatannya jangka panjang. Umumnya, kalau sudah diberi obat, hiperaktifnya berkurang. Untuk yang konsentrasinya lambat, ditingkatkan konsentrasinya. Kecuali kalau kerusakannya parah, perbaikan atau pengobatannya makan waktu lama," tambah Irawan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...